PENGEMBANGAN e-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
KIMIA
A. Pengertian e-Learning
E-learning merupakan
singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam
proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet
sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi
logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa ahli
mencoba menguraikan pengertian e-learning menurut versinya masing-masing,
diantaranya :
·
Jaya Kumar C. Koran (2002) e-learning sebagai
sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau
bimbingan.
·
Dong (dalam Kamarga, 2002) e-learning sebagai
kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang
memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
·
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning
merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi
yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
·
Darin E. Hartley (Hartley, 2001) eLearning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan
komputer lain.
·
LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning
Terms (Glossary, 2001)
e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk
mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun
komputer standalone.
E-learning dalam arti luas
bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet)
baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal
misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan
tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati
pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri).
Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi
dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak
jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya
perusahaan konsultan) yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa
e-learning untuk umum.
E-learning bisa juga
dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya
melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi
dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan
atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut
biaya).
Menurut
Kamus Bahasa Indonesia (KBI), kata model diartikan sebagai 1 pola
(contoh, acuan, ragam, dsb) dari pada sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan;
2orang yang dipakai sebagai contoh untuk dilukis (difoto); 3 orang
yang (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yang akan dipasarkan; 4 barang
tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) tepat benar seperti yang ditiru. Dalam
makalah ini, yang dimaksudkan dengan model adalah pada arti yang pertama yakni
sebagai pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dari pada sesuatu yang akan dibuat
atau dihasilkan.
Sedangkan menurut
Sihabudin, Model adalah tema yang cukup problematik dan digunakan secara
berbeda-beda oleh tiga komunitas. Pertama, para praktisi cenderung menggunakan
“model” dalam arti“pendekatan belajar dan mengajar”. Contoh, mereka mungkin
berbicara tentang penggunaan “problem-based (berbasis masalah)”, “outcome-based (berbasis
keluaran)”, atau secara spesifik lebih popular dengan pendekatan
konstruktivistik ketika merencanakan materi dan pembelajaran. Kedua, para
peneliti cenderung menggunakan “model” dalam arti sebuah cara untuk menjelaskan
atau mengeksplorasi sesuatu yang terjadi di dalam konteks belajar. Ketiga,
komunitas pengembangan teknik dan standar menggunakan “model” dalam arti sebuah
cara untuk menyusun representasi seperti pemberian kode. Dari dua pengertian
diatas maka yang dimaksud dengan model adalah pola representasi dari sesuatu
yang akan dirancang.
Secara etimologis
e-learning terdiri dari huruf e yang merupakan singkatan dari
eletronic dan kata learning yang artinya pembelajaran. Dengan
demikian, e-learningbisa diartikan sebagai pembelajaran dengan
memanfaatkan bantuan perangkat eletronik, khususnya perangkat komputer. Fokus
penting dalam e-learning adalah proses belajaranya (learning) itu sendiri dan
bukan pada electronic karena elektronik hanyalah sebagai alat bantu saja.
Pelaksanaan e-learning menggunakan bantuan audio, video, dan perangkat komputer
atau kombinasi ketiganya (Munir, 2009: 169).
Terdapat beberapa
pengertian e-learning menurut pendapat para ahli teknologi pendidikan. E-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan
komputer lain [Hartley, 2001]. E-learning (electronic learning) adalah
pembelajaran baik secara formal maupun informal yang dilakukan melalui media
elektronik, seperti internet, intranet, CD-ROM, video tape, DVD, TV, handphone,
PDA, dan lain-lain (Lende, 2004).
Salah satu definisi umum
dari e-learning diberikan oleh Gilbert & Jones (2001), yaitu: pengiriman
materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti Internet,
intranet/extranet, satellite broadcast, audio/video tape, interactive TV,
CD-ROM, dan computer-based training (CBT). Definisi yang
hampir sama diusulkan juga oleh the Australian National Training Authority
(2003) yakni meliputi aplikasi dan proses yang menggunakan berbagai media
elektronik seperti internet, audio/video tape, interactive TV and CD-ROM guna
mengirimkan materi pembelajaran secara lebih fleksibel (Surjono, 2010: 4)
Dari beberapa pengertian di
atas maka dapat disimpulkan bahwa e-learning adalah model pembelajaran yang
memanfaatkan berbagai perangkat elektronik sebagai sarana/media pembelajaran.
Perangkat elektronik yang dimaksud mencakup perangkat hardware seperti
komputer, video, tape, radio, televisi, handphone, maupun perangkat software seperti
jaringan komputer dan/atau internet. materi e-learning tidak hanya
didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal
ataupun internet, tetapi juga didistribusikan secara off-line menggunakan
media CD/DVD.
Yang
dimaksudkan dengan model pengembangan e-learning adalah pola representasi yang
akan digunakan untuk merancang e-learning sehingga dapat manfaatkan oleh user
semaksimal mungkin.
B. Tujuan dan Manfaat
E-Learning
Tujuan E-Learning adalah untuk meningkatkan
daya serap dari para mahasiswa atas materi yang diajarkan, meningkatkan partisipasi
aktif dari para mahasiswa, meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan
meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Diharapkan dapat merangsang
pertumbuhan inovasi baru para mahasiswa sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Manfaat E-Learning :
1.
E-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu
dan tempat untuk mengakses pelajaran dilakukan dari mana saja.
- E-learning
memberikan kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas
keberhasilan belajarnya.
- Memungkinkan
terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja.
- Mengurangi
biaya perjalanan
- Menjangkau
peserta didik dalam cakupan yang luas
- Adanya
peningkatan interaksi mahasiswa dengan sesamanya dan dengan dosen
- Terbentuknya
komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima
serta tidak terbatas dalam satu lokasi
- Meningkatkan
kualitas dosen karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas
dan bahkan tidak terbatas
- E-learning
yang dikembangkan secara benar akan efektif dalam meningkatkan kualitas
lulusan dan kualitas perguruan tinggi.
- Guru
atau dosen akan lebih mudah melakukan pembaruan materi maupun model
pengajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, juga
dapat dengan efisien mengontrol kegiatan belajar siswanya
- Menghemat
biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku)
- Menjangkau
wilayah geografis yang lebih luas
- Melatih
pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan
C. Fungsi E-Learning
Ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik
terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (Classroom instruction),
yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan / optional, pelengkap
(komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).
1. Suplemen
Dikatakan
berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai
kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik
atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban / keharusan bagi peserta
didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya
opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan
pengetahuan atau wawasan.
2. Komplemen (Tambahan)
Dikatakan
berfungsi sebagai komplemen (pelangkap) apabila materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk melangkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di
dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai Komplemen berarti materi pembelajaran
elektronik diprogramkan utnuk menjadi materi reinforcement (pengayaan)
atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
konvensional. Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment,
apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai / memahami
materi pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast
leaners) diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran
elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya
agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap
materi pelajaran yang disajikan guru didalam kelas. Dikatakan sebagai
program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami
kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka
di kelas (Slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan
materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang
untuk mereka.
3. Pengganti (Substitusi)
Beberapa
perguruan tinggi di Negara-negara maju memberikan beberapa alternatif
model kegiatan pembelajaran / perkuliahan kepada para mahasiswanya.
Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan
perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari
mahasiswa.
D. Kelebihan dan Kekurangan
E-Learning
Keuntungan menggunakan E-Learning adalah
sebagai berikut :
- Menghemat
waktu proses belajar mengajar.
- Mengurangi
biaya perjalanan.
- Menghemat
biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku).
- Menjangkau
wilayah geografis yang lebih luas.
- Melatih
pembelajaran lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan
Pemanfaatan internet untuk
pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan.
Berbagai keritik (Bullen,2001 dan Beam,1997), antara lain :
- Kurangnya
interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri.
- Kecenderungan
mengabaikan aspek akademik atau aspek social dan sebaliknya mendorong
tumbuhnya aspek bisnis / komersial.
- Proses
belajar dan mengajarnya cenderung kearah pelatihan
daripada pendidikan.
- Berubahnya
peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional,
juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran menggunakan ICT.
- Siswa
yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
- Tidak
semua tempat tersedia fasilitas internet.
- Kurangnya
tenaga yang mengtahui dan memiliki keterampilan internet.
- Kurangnya
penguasaan bahasa komputer.
E. Model Pengembangan e-Learning
Terdapat beberapa model pengembangan
e-learning. Menurut Jolliffe, dkk., terdapat dua model utama yakni the
mental model dan the cognitif apprenticeship model.
1.
The Mental Model (Model Mental).
The
mental models are the conceptual and operasional representations that people
develop as they interact with complex systems. Mental model are thouhgt to
consist of an awareness of the various component of a systems and are assesed
using a variety of method including problem solving, troubleshooting
performance, information retention over time, observation and user predictions
regarding performance (Jolliffe
dkk, 2001: 22).
Model
mental diartikan sebagai penyajian-penyajian konseptual dan operasional yang
dikembangkan ketika orang berhubungan dengan sistem yang kompleks. Model-model
mental merupakan pemikiran yang terdiri atas kesadaran terhadap berbagai
komponen dari suatu sistem dan dievaluasi menggunakan berbagai metode termasuk
pemecahan masalah, mencari dan memecahkan persoalan, ingatan informasi,
pengamatan dan prediksi pengguna (user) terhadap pengetahuan
capaian. Model mental nampak lebih dari sekedar peta struktural dari berbagai
komponen.
Terdapat
beberapa komponen dalam model mental antara lain :
a.
Structural knowledge
Merupakan pengetahuan
tentang konsep struktur domain pengetahuan dan diukur melalui jaringan dan peta
atau lingkaran-lingkaran konsep. Metode ini berasumsi bahwa pengetahuan dapat
dibentuk menggunakan simbol.
b. Performance knowledge
Bertujuan untuk menilai
pengetahuan capaian dimana pebelajar diberi tugas-tugas pemecahan masalah untuk
menguji kesan visual mereka.
c. Reflective knowledge
Disini pebelajar bisa
menunjukkan kepada yang lain bagaimana cara melaksanakan suatu tugas tertentu.
Dengan cara ini, pebelajar pertama harus membuat daftar perintah, deskripsi
tugas dan diagram alur untuk menmguji gambaran mentalnya.
d. Image of system
Merupakan kenyataan dari
model pebelajar yang khas dinilai dengan meminta pebelajar untuk
mengartikulasikan dan memvisualisasikan bentuk-bentuk fisik.
e. Metaphor
Seperti juga gambar-gambar,
pembelajar akan sering menghubungkan sistem baru dengan pengetahuan ada
sehingga dapat dilihat orang lain.
f. Executive knowledge
Bertujuan untuk memecahkan
permasalahan, pembelajar harus mengetahui kapan mengaktifkan dan menerapkan
sumber daya kognitif yang diperlukan.
2.
The Cognitif Apprenticeship Model (Model Belajar Magang
Kognitif)
Cognitive
apprenticeship is based on various conditions for learning, for example :
learning takes place within a context of meaningfull, ongoing activities with a
need for learners to receive immediate feedback on their success; other people
can and do serves oa models for imitative learning and provide structure to and
connections betwen learners’ experiences; the concept of learning being
fungtional; and the idea that the need for and purpose for learning are often
explicitly stated (Jolliffe dkk, 2001: 23).
Model
belajar magang kognitif berdasarkan pada berbagai kondisi-kondisi belajar
misalnya belajar berlangsung dalam konteks aktivitas yang berkelanjutan, penuh
arti dimana pembelajar perlu menerima umpan balik segera. Orang lain dapat
bertindak sebagai model-model yang menyediakan bentuk yang dihubungkan dengan
pengalaman pembelajar; konsep belajar fungsional dengan tujuan belajar yang
tegas.
Model
belajar magang tradisional biasanya memberi peluang untuk latihan.
Karakteristik model belajar ini antara lain: gagasan bahwa pekerjaan adalah
daya penggerak, dan penguasaan progresif terhadap tugas-tugas dihargai sebagai
nilai penyelesaian pekerjaan; ketrampilan-ketrampilan tertentu diawali dengan
belajar tugas; belajar dipusatkan pada capaian (perfomance) dan kemampuan untuk
melakukan sesuatu; dan standar pencapaian diaktualisasikan dalam pekerjaan
nyata.
Sesuatu
yang dapat dijadikan teladan dalam metodologi belajar tradisional yakni
menyediakan satu dasar pijakan untuk penggunaan model belajar magang kognitif
dalam pengembangan materi print dan Web-based. Model ini mengabaikan
perbedaan-perbedaan antara pendidikan dan pelatihan dan membantu pembelajar
untuk menjadi seorang ahli
1) Model Pengembangan
E-Learning Dengan Pendekatan Knowledge Management
Knowledge Management (KM) dapat didefiniskan
sebagai satu set (himpunan) intervesi orang, proses dan tool (teknologi)
untuk mendukung proses pembuatan, pembau-ran, penyebaran dan penerapan
pengetahuan. Pembuatan pengetahuan adalah proses perbaikan atau penambahan
potongan-potongan pengetahuan tertentu selama proses pembelajaran terjadi
melalui pengalaman. Pembauran pengetahuan merupakan proses pengumpulan, penyimpanan
dan penyortiran dari pengetahuan yang dikembangkan dengan pengetahuan yang
dimiliki. Penyebaran pengetahuan adalah proses pengambilan dan pendistribusian
pengetahuan untuk dipergunakan dalam proses pembelajaran yang lain. Penerapan
pengetahuan merupakan proses pemanfaatan pengetahuan yang ada untuk membantu
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pengetahuan dikembangkan dalam proses
pengalaman, seperti problem-solving, projek atau tugas.
2) Model Pengembangan
E-Learning Dengan Pendekatan Moodle.
Moodle adalah sebuah nama untuk
sebuah program aplikasi yang dapat merubah sebuah media pembelajaran ke dalam
bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk ke dalam ruang kelas
digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan moodle,
kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain.Moodle itu
sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning
Environment.
Berbagai bentuk materi
pembelajaran dapat dimasukkan dalam aplikasimoodle ini. Berbagai
sumber dapat ditempelkan sebagai materi pembelajaran. Naskah tulisan yang
ditulis dari aplikasi pengolah kata Microsoft Word, materi presentasi yang
berasal dari Microsoft Power Point, Animasi Flash dan bahkan materi dalam
format audio dan video dapat ditempelkan sebagai materi pembelajaran resource.
Berikut ini beberapa
aktivitas pembelajaran yang didukung oleh Moodleadalah sebagai
berikut (1) Assignment. Fasilitas ini digunakan untuk
memberikan penugasan kepada peserta pembelajaran secara online. Peserta
pembelajaran dapat mengakses materi tugas dan mengumpulkan hasil tugas mereka
dengan mengirimkan file hasil pekerjaan mereka, (2) Chat. Fasilitas
ini digunakan untuk melakukan proses chatting (percakapan
online). Antara pengajar dan peserta pembelajaran dapat melakukan dialog teks
secara online, (3) Forum. Sebuah forum diskusi secara online
dapat diciptakan dalam membahas suatu materi pembelajaran. Antara pengajar dan
peserta pembelajaran dapat membahas topik-topik belajar dalam suatu forum diskusi,
(4) Kuis. Dengan fasilitas ini memungkinkan untuk dilakukan
ujian ataupun test secara online, (5) Survey.Fasilitas ini
digunakan untuk melakukan jajak pendapat.
Strategi pengembangan
model e-learning perlu dirancang secara cermat sesuai tujuan
yang diinginkan. Jika disepakati bahwa e-learning di dalamnya
juga termasuk pembelajaran berbasis internet. Ada tiga kemungkinan dalam
strategi pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web
course, web centric course, dan web enhanced course (Haughey, 1998).
·
Web Course
Web
course adalah
penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan
pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh
bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan
pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain
model ini menggunakan sistem jarak jauh.
·
Web Centric Course
Adalah
penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka
(konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi
melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa
memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web
yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain
dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar
lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui
internet tersebut.
Menurut
Munir (2009: 199-200), dalam beberapa kenyataan di lapangan pendidikan, jarang
sekali ditemui pembelajaran jarak jauh yang seluruh proses pembelajarannya
dilaksanakan dengan e-learning atau online
learning. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diberlakukan blended
distance learning (campuran antara online course dan
tatap muka). Model pembelajaran jarak jauh dengan pendekatan blended
learning ini perlu dikembangkan dengan tujuan untuk memperluas
kesempatan belajar, diantaranya model pembelajaran jarak jauh. Model ini merupakan
gabungan pelaksanaan pendidikan konvensional dan IT-Based education.
·
Web Enhanced Course
Model
web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan
kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk
memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar,
sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber
lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai
teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan
menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi
melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi
melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Dalam
penjelasan selanjutnya tentang strategi pelaksanaan model pembelajaran
e-learning, Sihabudin menguraikaan bahwa terdapat empat (4) model yang dapat
digunakan dalam pelaksanaan e-learning di sekolah yakni selective
model, seqquential model, static station model dan laboratory
model. Selective model dapat dilakukan bila jumlah komputer
terbatas, sedangkan sequential model dilakukan juga bila jumlah komputer
terbatas dan siswa dalam kelompok kecil bergerak dari satu set sumber informasi
ke sumber yang lain. Bahan e-learning digunakan sebagai bahan
rujukan atau bahan informasi baru. Jika terdapat beberapa komputer, siswa
diberi peluang untuk mendapatkan pengalaman hands-on. Pada
static station model, jika jumlah komputer sedikit, guru mempunyai beberapa
sumber berbeda untuk mencapai objektif pembelajaran yang sama. Bahan e-learning digunakan
oleh beberapa kelompok siswa manakala siswa lain menggunakan sumber yang lain
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Sedangkan pada laboratory model
dilakukan jika jumlah komputer mencukupi untuk semua siswa, maka bahan e-learning dapat
digunakan oleh semua siswa sebagai bahan pembelajaran mandiri. Model ini boleh
digunakan jika sekolah mempunyai perangkat komputer yang dilengkapi dengan
jaringan internet.
Permasalahan
:
·
Apakah dengan penggunaan e-learning dalam
pembelajaran mampu menghubungkan ranah afektif dan psikomotorik pada siswa?
Lalu bagaimana cara anda jika anda berperan sebagai seorang guru dalam
mengevaluasi hal tersebut?
·
Bagaimana program e-learning dapat dikembangkan
secara efektif dalam pengembangannya pada pembelajaran? Bagaimana pengaruhnya
dalam dunia pendidikan saat ini?
DAFTAR PUSTAKA
Jolliffe,
Alan, Jonathan Riter & David Stevens. (2001). The Online
Learning Hand Book Developing and Using Web-Based Learning. USA .
Kogan Page.
Munir.
(2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan
Komunikasi. Bandung. Alfabeta.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.
(2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta. Pusat Bahasa Depdiknas.